Kapan terakhir Anda membaca buku-buku serius, mendulang ilmu pengetahuan, mempertajam akal, dan membangun salah satu tradisi peradaban: membaca? Sebenarnya orang itu adalah kita sendiri, orang yang menghalangi diri sendiri dari perkembangan atau menjadi orang yang memimpin diri menuju kesuksesan.
Orang itu adalah kita yang memutuskan apakah kita berjalan di garis keberhasilan ataukah menuju jurang kegagalan. Setiap sikap dan tindakan berpengaruh pada penggunaan potensi diri. Sikap-sikap kita bisa sebagai jalan keluarnya potensi diri, bisa juga sebagai upaya mengubur potensi diri di lubang kemalasan.
Selalu ada hubungan antara potensi diri dan prestasi hidup. Mereka yang menjelajahi potensi dirinya lebih dekat kepada prestasi. Mereka yang membiarkan potensi dirinya tergenang hanya akan melewati hidup dengan penyesalan.
Mungkin era digital telah menjadikan diri Anda pribadi yang terhuyung-huyung di antara cengkaraman facebook atau twitter. Kita lebih suka membaca tulisan-tulisan pendek tanpa makna daripada menyelami isi buku serius yang membangun mindset sukses; buku-buku yang menjadi spirit dari sebuah peradaban.
Kecanggihan teknologi tanpa disadari menyedot energi, waktu, dan perhatian manusia modern di abad ini. Susan Greenfield, salah seorang peneliti di Universitas Oxford, menemukan beberapa dampak negatif dari jejaring sosial ini.
#1. Menurunkan Daya Konsentrasi
#2. Menjadikan lebih egocentris.
#3. Mendorong untuk mendapatkan segala sesuatu secara instan.
#4. Mengalami gangguan dalam berkomunikasi.
#5. Menurunkan kemampuan verbal.
#6. Kurangnya kemampuan ber-sosial.
Generasi yang terobsesi dengan jejaring sosial ini pernah dijuluki sebagai The Dumbest Generation oleh Bauelien. Generasi terbodoh.
Bila melihat hubungan antara potensi diri dan prestasi, mudah-mudahan kita masih mau membaca buku-buku bagus. Lalu mengendapkan ilmunya dalam otak. Kemudian mempraktekan setiap inti sari ilmu tersebut.
Kelak pada waktunya, kita telah memiliki deep knowledge tatkala masuk dunia kerja. Ilmu pengetahuan itu adalah pilar bagi terbentuknya kompetensi dan kapabilitas. Lalu denganya Anda mengasah skills hingga menjadi super di bidang yang ditekuni. Apapun profesi yang Anda geluti: ahli desain, arsitek, marketing, entrepreneur... Anda membutuhkan pilar kuat bernama ilmu pengetahuan dan skills mumpuni.
Setelah itu, Anda boleh berharap menggapai dream job dan dream life.
#potensi-diri
#hubungan-potensi-diri-prestasi
0 Response to "Hubungan Potensi Diri dan Prestasi: Mendedah Keajaiban Diri"
Post a Comment