Siapapun itu, setiap orang berkesempatan untuk menjejahkan namanya selagi jenak waktu masih tersisa untuknya. Ada nama yang mesti diukir indah seindah-indahnya. Ada nama yang mesti diabadikan melalui puisi kehidupan. Pahatan dan ukiran itu tidak lain adalah karya.
Rentang waktu sejatinya adalah masa karya. Semestinya berlomba-lomba menghasilkan karya sebelum masa kita di dunia ini selesai. Karya besar tidak mungkin diukir kecuali kita sebelumnya mengukir jiwa dengan nilai-nilai luhur. Membangun jiwa tidak kalah penting karena jiwa yang dibangun megah dengan sendirinya menghasilkan karya megah. Setidaknya karya itu mengukirkan nama indah kita, setidaknya pada garis sejarah pribadi.
Dan salah satu tool mengangkat daya kita adalah rasa percaya diri. Setiap orang yang percaya diri memancarkan kharisma tertentu; menenangkan dan memberi keyakinan. Rasa percaya diri itu laksana ujung pisau, siap menyeset lembaran ketakutan.
Apapun profesinya, setiap orang membutuhkan rasa percaya diri. Tanpa rasa percaya diri, seorang yang ingin membuka usaha tidak bisa melangkah. Ia mandek. Dihimpit rasa takut dan cemas. Tanpa rasa percaya diri, seorang guru tidak memiliki wibawa di hadapan siswanya. Tanpa rasa percaya diri, seorang wiraniaga tidak dapat meyakinkan client untuk membeli produknya.
Rasa percaya diri tidak seperti kata-kata ang dapat diolah. Ia begitu saja terpancar dari cara kita berbicara, bertindak, tersenyum, dan bahasa tubuh lainnya. Perhatikan perbedaan antara orang yang percaya diri dan yang kurang.
Percaya Diri. Melakukan apa yang diyakininya meskipun orang lain mengkritik.
Kurang Percaya Diri. Menyesuaikan tindakan sesuai dengan opini orang.
Percaya Diri. Berani menghadapi resiko dan bertindak lebih jauh lagi demi meraih tujuannya.
Kurang Percaya Diri. Tetap berada di zona nyaman, takut gagal, dan menghindari resiko.
Percaya Diri. Mengakui kesalahan dan kelemahan lalu mengambil pelajaran darinya.
Kurang Percaya Diri. Bekerja keras menutupi kesalahan dan sedapat mungkin menyembunyikannya sebelum orang lain mengetahuinya.
Percaya Diri. "Menunggu" orang lain mengapresiasi kerja Anda.
Kurang Percaya Diri. Membeberkan kerja-kerja dan prestasi kepada orang lain.
Terlihat orang-orang yang percaya diri mempunyai sifat yang membangun. Sebaliknya orang yang kurang percaya diri bersifat destruktif: merusak kepribadiannya sendiri.
Oleh karenanya, sudah sepantasnya setiap individu mengejar kesuksesan, memahami dan membangun rasa percaya diri.
#percaya-diri
0 Response to "Membangun Percaya Diri, Mengukir Nama "
Post a Comment