Pada bagian pertama, kita sudah membahas bagaimana cara pandang terhadap kerja dan masa depan berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari.
Bagian kedua ini diuraikan beberapa perubahan cara pandang dapat merubah alunan nasib, dari alunan sendu menjadi nyanyian bahagia.
#2. Sediakan Waktu Istimewa
Nah, ilmu yang satu ini saya dapatkan dari orang yang benar-benar hidup dari titik nadir. Ia membiayai hidup diri dan keluarga hanya mengandalkan kuli tani.
Kerja. Kerja. Dan kerja. Baginya tidak waktu untuk berleha-leha. Energinya memang sangat besar untuk menaklukan nasib pilu. Ia menerjemahkannya ke bentuk nyata: kerja mencari uang.
Pukul berapa Anda mulai bekerja? Pukul 7, 8, atau mungkin 9. Tapi ia sudah berangkat pukul 4 dini hari. Jika tempat kulinya itu jauh, bahkan ia harus berangkat pukul 3 dini hari. Berjalan kaki hingga 1 atau 2 jam. Orang lain mungkin sedang jatuh dalam buaian mimpi indahnya.
Setelah seharian bekerja pada orang lain, di rumah ia mengerjakan segala macam yang dapat mendatangkan uang. Membuat kerajinan dan sebagainya. Ia mengerjakannya hingga larut malam. Biasanya pukul 11 baru berhenti untuk istirahat.
Dan begitu perputaran hidupnya bertahun-tahun. Selagi masih ada tenaga yang tersisa, pantang baginya duduk berleha-leha. Ia tahu, ia menginginkan pendapatan yang cukup. Ia juga ingin bisa membeli kendaraan sebagaimana orang lain memilikinya.
Cerita seperti di atas baginya bukanlah cerita positif. Belakangan ia mengakui ia bekerja siang malam, tangannya penuh kesibukan, tetapi kemiskinan itu senantiasa hadir di depan matanya. Ia mengejar dunia tanpa ada titik yang bernama selesai. Tetapi anehnya dunia itu semakin menjauh dan jauh.
Turning point yang mengubah segalanya adalah ketika ia berubah pikiran tentang waktu. Jika selama ini waktunya habis untuk mengejar dunia, sedikit demi sedikit ia memberanikan diri menyediakan waktu untuk beribadah.
Ada waktu-waktu istimewa antara dirinya dan Pencipta-nya. Istimewa karena ketika tiba waktu sholat, ia langsung keluar dari lingkungan duniawi. Istimewa karena ketika sholat, tidak ada yang boleh mengganggu "waktu" itu, baik berupa pikiran maupun perasaan. Waktu itu benar-benar disediakan hanya untuk-Nya.
Lambat laun kehidupannya-pun berubah. Ada ketentraman dan kedamaian menaungi kehidupannya.
Perubahan Self-Image. Ketika menyadari dirinya hidup kekurangan kemudian menjawabnya dengan kerja, secara tidak sadar ia memiliki self-image yang buruk, self-image sebagai orang kekurangan. Semakin tersedot ke kerja untuk mengejar dunia, semakin besar self-image bahwa dirinya kekurangan.
Hati dan pikiran yang susah melahirkan garis hidup yang susah pula. Hal ini sejalan dengan hasil penemuan Maxwell Maltz yang terkenal dengan Psyco-Cybernetics. Awalnya menemukan para pasiennya meskipun sudah melakukan bedah plastik untuk mempercantik wajahnya, tetap saja sebagian wajah pasien itu tidak memancarkan kecantikan. Alasannya karena pasien tersebut merasa dirinya jelek.
Maltz memperkenalkan istila cybernetics servo mechanism, dimana seluruh aktivitas otak berjalan secara otomatis untuk menemukan jalan menuju target: dalam konteks ini targetnya adalah Self-Image jelek.
Servo Mechanism bagaimanapun caranya mencari jalan untuk mewujudkan self-image. Kembali kepada self-image "orang kekurangan" maka secara lebih luas mindset yang terbentuk, seluruh pori-pori, sel-sel otak, urat dan syaraf tubuh akan mencari jalan menemukan self-image tersebut. Lalu berusaha mewujudkannya.
Ketika kuli tani tadi merubah self-image-nya sebagai orang yang memiliki cukup waktu dan cukup rezekinya, servo mechanism-pun secara otomatis mencari jalur untuk menemukan dan mewujudkan self-image barunya. Dan hari ini kehidupannya benar-benar berubah. Hidup dalam berkelimpahan.
Akhir kata, jika bersedia memberikan waktu istimewa untuk Sang Maha Pencipta, jiwa kita akan merasa dilindungi, diberi, dianugerahi, dan selalu terhubung dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Dipandang dari sudut manapun, kedekatan jiwa dengan Pencipta melahirkan impak-impak positif, termasuk bagi kehidupan finansial Anda.
Jangan sampai hidup dengan gaji yang selalu impas-impasan, kerja tiada henti mengejar dunia, letih dan penat oleh harta yang berada di awang-awang. Jangan pernah juga merasa bernasib jelek. Hati-hati, Your brain as a Self Image Guided Missile!

0 Response to "Gaji Mentok, Hidup Impas-impasan: Kejar Dunia Tanpa Pernah Selesai (bag 2)"
Post a Comment